Locita

Nurhadi-Aldo dan Usangnya Narasi Politik Kita

Sumber Gambar (ilustrasi. Viva.co.id)

Viralnya foto calon presiden Nurhadi dari Aliansi Tronjal Tronjol adalah sebuah fenomena baru dari media alternatif versi kedua.

Di tengah panasnya perdebatan singit antar pendukung baik di kubu Capres Jokowi vs Prabowo, kehadiran Nurhadi adalah produk media alternatif yang sedikit melepaskan ketegangan kita. Poster unik dengan kutipan-kutipan lucu menjadi generik bukan hanya karena mudah diikuti namun juga ia mudah diselewengkan menjadi guyonan politik yang membuat kita tersenyum.  Nurhadi , juru pijat Pasar Bruyung Kudus yang tidak dikenal kemudian menjadi idola banyak orang di sosial media dan sepertinya bila ia memang ingin mencalonkan dirinya betul-betul ke KPU, bukan mustahil kejutan lain akan muncul.

Siapapun ide dibalik ide capres alternatif di tengah terbelahnya sikap pro-kontra telah sedikit banyak membuka sumbatan masyarakat yang bosan dan jenuh membaca narasi politik hari ini. Penelitian tentang fenomena alternatif seperti Nurhadi pernah dilakukan Hart pada 1980.

Laporannya menunjukkan jika pasca terpilihnya aktor film Ronald Reagan sebagai presiden AS (Pemilu 1980) ada satu jenis sosiologi politik masyarakat Amerika yaitu dorongan kepada hal-hal yang dianggap diluar mainstream atau alternatif.  Hart menulis bila sebagian publik melihat jika politik hanyalah urusan elit di Demokrat atau Republik.

Mereka merasa sama sekali tidak diberi peran untuk menentukan sikap siapa yang harus muncul dan mengapa ia boleh muncul. Hilangnya “keterwakilan” masyarakat pada sosok-sosok politisi itulah yang membuat sebagian besar publik juga beranggapan jika ikut berkontribusi dalam politik punt tidak akan membuat perubahan kepada nasib.

Sehingga ketika Reagan, aktor film-film tidak terkenal, gagal dipasaran, dan tidak pernah memenangkan piala Oscar dimajukan sebagai kandidat Gubernur California, ekspektasi masyarakat tiba-tiba muncul. Publik ingin sekali-lagi memenangkan orang seperti Reagan, yang dianggap mewakili kebanyakan masyarakat.

Ia berkomitmen dalam pekerjaannya meski sering kali gagal dan ia mampu menggunakan bahasa-bahasa slank orang kebanyakan. Reagan yang memperkenalkan istilah “read my lips”, “Don’t trust government”, “get government out your back” semasa menjabat menjadi gubernur. Istilah yang tentu saja aneh bagi dirinya sendiri sebagai pemerintah tetapi dianggap mewakili kehendak publik yang kadung apatis terhadap apa-apa yang berurusan dengan pemerintahan. Lewat kemampuannya membangun peran –karena Ronald adalah aktor- dia mengenali bagaimana ia harus berdialog dengan pemirsa yang rindu pada sosok alternatif.

Phenomena mencari alternatif ini pula yang terjadi pada sosok Jokowi dulu. Ia hanyalah pengrajin meubel di Solo, menjadi pengusaha tetapi tidak terlalu sukses pula, dan hal ini dianggap mewakili nasib orang Indonesia kebanyakan. Sosoknya yang generik, apa adanya, sederhana dan berbahasa rakyat jelata adalah alternatif pada masanya. Yang terbukti mengantarkan dia menjadi Presiden.

Hampir mirip dengan persoalan keinginan publik pada alternatif tadi maka sosok Nurhadi -capres usungan Aliansi Tronjal Tronjol Maha Asyik- kita melihat juga fenomena sosilogi politik di masyarakat yang berubah kembali. Bahwa keinginan mencari alternatif-alternatif tadi ternyata berlangsung sedemikian cepat. Jokowi barangkali dulu adalah prototipe alternatif yang dimaksud. Namun ketika media massa mainstream dan elit-elit tradisional mengitari dirinya dan membungkusnya menjadi manusia super ia tidak lagi menjadi sebuah otentisitas.

Laporan tentang Jokowi hari ini misalnya hanyalah tentang keberhasilan, infrastruktur, dan dolar yang naik. Padahal dulu ia dipilih bukan karena persoalan-persoalan itu. Ia terlalu sempurna sebagai sebuah alternatif dan karenanya pandangan orang tentang sesuatu yang dianggap alternatif adalah sesuatu pilihan yang dinamis.

Bila dulu Jokowi terbentuk karena campur tangan media arus utama (Main Stream Media/MSM) maka keberpihakan yang berlebihan kepada sosok Jokowi dan tentu saja juga Prabowo dianggap sebagai sebuah pengkhianatan.

Ilustrasi tentang sosok capres hari ini misalnya, sudah terbentuk dalam narasi-narasi yang lagi-lagi dibentuk oleh MSM dengan tujuan politik yang berlebihan. Akibatnya seperti ditulis Rose masyarakat dipaksa menjadi terbelah (devided society) dalam arus pemikiran antara pro vs kontra, lover vs hater. Tentu saja temuan Rose ini bukan hanya berbahaya dari ikatan kerukunan sesama warga namun hilangnya alternatif pemikiran genial yang justru dibutuhkan untuk membangun Indonesia.

Kesumpekan akan narasi politik hari inilah yang kemudian mencari jalan-jalan alternatifnya sendiri-sendiri. Sehingga apa yang kemudian ditawarkan penggas Nurhadi dengan cepat membuka salah satu kebuntuan tadi dan membuncah dalam bentuk imploisi politik publik yang dengan cepat viral.

Perbedaan utama dari fenomena Nurhadi dengan fenomena alternatif sosok Jokowi di 2014 adalah; Pertama, penggagas awalnya adalah aktor-aktor non negara, non pemerintah dan non partisan mereka bukan orang-orang yang teraffiliasi  dengan modal besar, partai dan relawan tertentu.

Kedua, sifat dari media alternatif versi kedua adalah kekuatan mereka ada dikemampuan pemirsa untuk ikut serta menggeneralisasi ide awal dan menyebarkannya pula secara spontan.

Ketiga, mereka menggiatkan sendiri cara berkomunikasi dan melakukan perlawanan melalui bahasa slank dan norma-norma yang diselewengkan. Yang ditulis Daniel McQuail (2005) dalam sosiologi politik urban sebagai bahasa khas para penggiat (bots) media alternative independen. Mereka memunculkan cara baru berkomunikasi untuk membedakan diri dari bahasa media arus utama (MSM). Watson dan Will (2003) menyebutnya sebagai swa-pewacanaan (self-dicourses) dari kontra hegemoni untuk mengatasi pengarusan opini di masyarakat oleh media massa besar.

Terlepas dari kenyataan bahwa sifat dari media baru adalah cepat mencapai apa yang disebut titik kebosanan dan keusangan baru (new obselences), fenomena Nurhadi pun akan berlalu sejalan dengan mendekatnya pilpres yang sebenarnya.  Meskipun demikian kita tentu perlu berterimakasih kepada Yang Mulia Bapak Nurhadi dan tim-sesnya.

Meski pada akhirnya ini hanya satu bentuk keisengan saja namun kehadirannya telah membantu kita melepaskan tekanan-tekanan dari narasi politik yang sudah terlalu jenuh di tembakkan ke alam pikiran masyarakat. Sesekali kita harus disadarkan kembali ke realitasnya, bahwa politik itu seharusnya menjadi sesuatu yang menghibur juga menyenangkan.

 

Andi Hakim

Andi Hakim

Andi Hakim, pernah kuliah di ITB Bandung. Memperoleh beasiswa Lee Kuan Yew di LKYSPP-National University of Singapore untuk Magister of Public Management dan Harvard University AS. Peneliti Kerjasama Pembangunan untuk OECD, penggiat energi baru terbarukan dan biodiversitas berkelanjutan di SiaBios Berlin. Senang menulis apa saja di sosial media.

314 comments

Tentang Penulis

Andi Hakim

Andi Hakim

Andi Hakim, pernah kuliah di ITB Bandung. Memperoleh beasiswa Lee Kuan Yew di LKYSPP-National University of Singapore untuk Magister of Public Management dan Harvard University AS. Peneliti Kerjasama Pembangunan untuk OECD, penggiat energi baru terbarukan dan biodiversitas berkelanjutan di SiaBios Berlin. Senang menulis apa saja di sosial media.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.