Locita

Merial Institute Rilis Nasib Getir Pemuda

Ilustrasi: depositphotos

ANAK muda itu bernama Abdul. Ia berasal dari Makassar, dan kini bekerja sebagai jurnalis di satu media di Jakarta. Ia telah dua tahun menjadi perantau di kota sebesar Jakarta.

Suatu hari, ia terserang penyakit demam tinggi sehingga terpaksa harus meringkuk di ruang perawatan rumah sakit selama berhari-hari. Ia seorang diri menghadapi penyakit yang membuatnya tak bisa leluasa ke mana-mana.

Saat saya pertama tiba di Jakarta, saya menjenguknya di rumah sakit. Ia berpesan, “Satu pesanku jangan sampai sakit di Jakarta. Jaga baek-baek kesehatanmu, bukan apa-apa tidak ada yang rawat ko dan asal ko tau itu rasanya lebih perih daripada sakitmu.”

Bagi perantau, sakit adalah cobaan terberat yang harus dihadapi. Beberapa teman yang saya temui dan juga merantau di kota besar ini mengakui hal itu.

Bagi yang punya istri, mungkin bebannya tidak seberapa sebab ada pihak yang membantu dan ikut mengurus keperluannya. Tapi bagi yang lajang, pengalaman sakit adalah pengalaman getir dan merupakan seberat-beratnya cobaan.

Bukan saja karena biaya berobat yang mahal, tapi juga merasakan bagaimana kerasnya hidup untuk survive di tengah lingkungan yang individualistik.

Memang masih ada teman sekampung atau fasilitas perawatan dari pemerintah seperti BPJS, tapi itu tidak banyak membantu.

Teman saya tidak sendirian. Ada jutaan pemuda di Ibukota maupun di negara ini yang mengalami nasib serupa. Banyak orang yang bisa mengalami perasaan sakit dalam kondisi tidak ada yang merawat. Ditambah lagi, jika sakit itu menelan waktu lama.

Data Merial Institute, lembaga yang concern pada isu-isu kontemporer, menunjukkan ada jutaan pemuda Indonesia yang dirawat lama di rumah sakit. Merial Institute melansir data, rata-rata lama sakit pemuda Indonesia yakni 1-3 hari dalam jangka waktu sebulan.

Angka ini cenderung mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir menjadi lama sakit 4-7 hari. Hal ini tentu bukan saja mengenaskan bagi para jomblowan dan jomblowati, tapi juga bagi pemerintah yang terbebani dengan rendahnya produktifitas angkatan kerja dimana sebanyak 24,5 % dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang merupakan pemuda (BPS, 2014).

***

Merial Institute juga melansir data mengenai kualitas kesehatan pemuda Indonesia pada tahun 2016 yang dilihat dari dua indikator, yaitu  angka kesakitan pemuda dan rata-rata lama sakit pemuda.

Angka kesakitan pemuda merupakan persentase penduduk umur 16-30 tahun yang pernah atau sedang sakit dalam tiga bulan terakhir. Semakin rendah nilai indikator ini menunjukkan semakin baik kualitas kesehatan pemuda di suatu wilayah.

Data yang diolah Merial Institute ini menunjukkan bahwa pemuda Indonesia rentan sakit dan membutuhkan perawatan yang tergolong lama, dalam tiga bulan terakhir.

Yang mengejutkan, lama sakit ini ternyata tidak hanya terjadi di pedesaan, namun juga di perkotaan yang memiliki fasilitas kesehatan lebih lengkap.

Indikasi hasil riset ini menunjukkan bahwa terdapat tren penurunan kualitas kesehatan pemuda Indonesia, dan itu akan mempengaruhi banyak hal.

“Pemuda sebagai sumberdaya manusia yang paling berharga dalam mendorong pembangunan ekonomi, sosial dan budaya sebuah negara. Mau tidak mau, pemuda hari ini lah yang akan memasuki usia dewasa pada tahun 2030 sebagai penopang pembangunan berkelanjutan (target SDGs). Mereka lah yang akan mengalami kegagalan atau kesuksesan dari SDGs ini,” ujar peneliti Merial Institute, Ardiansyah Laitte dalam rilisnya.

Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan, untuk memanfaatkan potensi pemuda yang celakanya, kini cenderung sakit-sakitan?

Berkaca pada Cina

Berbicara tentang pemuda nasional, maka kita sedang bicara tentang domain atau wewenang Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Kinerja kementerian satu ini termasuk yang harus segera dievaluasi Jokowi-JK usai tiga tahun pemerintahan mereka.

Sampai saat ini belum tampak jelas kerja bidang ini, selain tumpang tindih kebijakan pemuda di beberapa kementerian. Prestasi olahraga kita juga kian terpuruk, pun program kepemudaan selama ini lebih banyak berputar pada tiga hal: perayaan pagelaran dan pameran.

Marilah berkaca dari negara lain, contohnya negara Cina. Negara sosialis yang tergolong berhasil mengolah potensi pemuda dan olahraganya. Padahal saat mengolah potensi itu, mereka belum sadar di depan mata ada keuntungan bonus demografi yang tergantung dari produktivitas dan keunggulan pemuda.

Medio 1950-an, saat Mao Zedong ‘naik tahta’, Cina bukanlah siapa-siapa. Saat  itu Cina bukanlah yang kita kenal sekarang, negara yang kini hampir seluruh produknya membanjiri dunia. Saya teringat pada adagium yang sering saya dengar dalam beberapa diskusi ekonomi. “Tanah, air, udara, bumi dan seisinya diciptakan oleh Tuhan. Selain itu dibuat oleh Cina.” Adagium ini tak salah karena Cina benar-benar telah bertransformasi menjadi negara industri baru, dan kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Pada masa Mao Zedong berkuasa, cita-cita untuk menjadikan Cina sebagai negara maju mencuat di permukaan. Pemimpin tertinggi Partai Komunis Cina ini menerapkan politik Juguo Tizhi.

Politik ini dikeluarkan dengan tekad menghilangkan status The Sick Man of Asia atau Orang Sakit dari Asia yang masa itu disematkan pada penduduk negeri ini. Penduduk Cina masa 1940-an memang rata-rata bertubuh kurus, dekil dan berpenyakitan. (Fan Hong, Ping Wu, dan Huan Xiong dalam Modern Sport: The Global Obsession).

Juguo Tizhi meupakan program pembentukan atlet elit. Rakyat Cina diwajibkan untuk mendaftar kepada sekolah-sekolah olahraga untuk dibentuk menjadi atlet. Sejak itu, para pencari bakat dikerahkan ke seantero negeri untuk menemukan bibit terbaik dengan ciri-ciri fisik yang menonjol.

Yang dimaksud dengan bibit” di sini ialah anak-anak berusia enam hingga sembilan tahun. Mereka yang memiliki pinggul kecil dan anggota tubuh yang lentur dimasukkan ke sekolah senam artistik atau loncat indah.

Bocah yang punya reaksi dan koordinasi gerak motorik yang bagus dilatih di sekolah khusus tenis meja atau bulu tangkis.

Adapun anak-anak yang bertubuh sintal dan berotot dilatih untuk menjadi atlet angkat besi.

Anak-anak yang masih berstatus pelajar ini berlatih di sekolah selama enam jam sehari. Sistem seleksi yang amat keras memang inti dari program Juguo Tizhi.

Metode latihan menggunakan metode Tentara Rakyat Cina: keras, disiplin, latihan intensif seolah akan terjadi perang. Tak sedikit yang sakit, hingga meninggal dunia.

Pelatihan keras ini menghasilkan anak-anak dengan potensi prestasi yang luar biasa. Merekalah anak-anak ‘buaya’ yang dilepaskan ke muara dari hulu bernama program Juguo Tizhi. Program yang memberi prestasi mentereng Cina di pentas olahraga dunia.

Sejak saat itu, julukan orang sakit dari Asia yang dulu disematkan kepada Cina perlahan pudar.

Cara Cina tersebut tentu di luar batas kewajaran, dan saya rasa tidak ada negara di dunia ini khususnya bagi negara berkembang seperti kita akan melakukan itu pada anak bangsanya.

Meski tak bisa dipungkiri politik olahraga Mao Zedong itu cukup berhasil khususnya bagi perekonomian negara. Bagaimana caranya? Nanti kita bahas hal ini.

Posisi Pemuda Kita

Terus apa kabar dengan negara kita, yang kini terpaut tiga urut dari Cina pada jumlah populasi masyarakat khususnya pemuda. Apakah kita harus melakukan hal serupa untuk membentuk pribadi pemuda tangguh demi menghindari sebutan Pemuda Sakit dari Asia?

Ada data yang memperlihatkan benang merah mengapa pemuda kita dari tahun ke tahun banyak yang mendekam di rumah sakit.

Riset dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, satu dari empat penduduk Indonesia menghabiskan waktunya lebih dari enam jam sehari untuk duduk-duduk, baik itu di tempat kerja, dalam perjalanan, dan di rumah. Persentase perilaku santai itu bahkan paling tinggi terjadi di kelompok usia 10-19 tahun.

Ada perubahan pola gaya hidup orang Indonesia yang didominasi oleh pemuda dengan jumlah 61,8 juta orang ini, sangat malas bergerak atau istilah anak ‘jaman now’: “Mager”. Jangankan berolahraga, untuk berjalan atau berlari saja angkanya sangat rendah.

Padahal, perilaku mager atau disebut juga sedentari ini merupakan perilaku yang berisiko terhadap terjadinya penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, dan mempengaruhi usia harapan hidup seseorang.

Kembali pada data Merial Institute, mengapa pemuda yang sakit tidak hanya menimpa pemuda perkotaan tapi juga di pedesaan? Sebab beberapa tahun teralhir terjadi perpindahan massa yang besar dari desa ke kota. Hal yang membuat saya harus menepuk pundak si Abdul, menenangkannya, dia tak sendiri di negeri ini.

“Pemuda desa kini berbondong-bondong meninggalkan desanya untuk menuju kota dan akhirnya mereka menderita sakit bahkan meninggal di kota. Angka kematian pemuda di perkotaan memang cukup tinggi,” ujar Adriansyah Laitte, perwakilan Merial Institute yang akan merilis hasil riset mereka ini pada pekan ini di Taman Suropati, Jakarta.

Data-data yang dilansir Merial Institute menjadi alarm bagi kita semua. Jika pemuda adalah soko guru bangsa ini di masa depan, kondisi pemuda yang tidak sehat akan menjadi alarm atas status bangsa ini di masa depan.

Masihkah kita bermimpi menjadi bangsa yang kuat jika pemudanya sakit-sakitan?

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.