Locita

Menyambut Tahun Baru Dengan Dalil-Dalil Yang Membosankan

foto: google foto

Pernah gak sih kalian ini merasa bosan dengan hiruk-pikuk bulan Desember? Yang dimana dalam satu bulan ada dua perayaan besar, pada angka 25 Natal dan di akhir bulan detik-detik pergantian Tahun. Dua perayaan ini selalu aja disambut dengan perdebatan-perdebatan dalil halal dan haram yang gak jelas ujung pangkalnya.

Kalau saya sendiri sangat bosan, bisa dibilang level kebosanan saya persis ketika dulu menembak gebetan, terus si dia menjawab “Beri saya waktu berpikir”. Gimana tidak, buka story WhatsApp, Instagram, Facebook, teman-teman sudah pada bikin kutipan-kutipan keharaman merayakan Natal dan Tahun Baru. Semua menjadi terasa sempit karena media-media semacam youtube hingga mainstream lainnya, juga ikut-ikutan menampilkan berita tentang debat tahunan ini.

Coba bayangkan, gimana perasaanmu ketika men-search­ kata kunci “Liburan tahun baru”, malah keluar fatwa larangan merayakan tahun baru. Mulai dari Pemkab/Pemkot Sabang, Bogor, Kabupaten Bandung Barat dll, bahkan sudah mengeluarkan surat imbauan itu pada warganya. Padahal saking seringnya, kita sudah hafal dengan dalil-dalil tentang meniup terompet itu katanya meniru Yahudi, dan barang siapa yang meniru suatu kaum maka hukumnya sama dengan kaum tersebut.

Saya sampai timbul pertanyaan, apa gak capek orang-orang berdebat suatu yang sama tiap tahun tapi ujung-ujungnya gak didengerin juga? Apakah merayakan tahun baru lebih gawat dari laporan Tirto.id soal truck tambang yang memakan banyak korban di Bogor? Atau persoalan kasus-kasus kekerasan seksual jauh tidak penting ketimbang Tahun Baru, sehingga mereka males untuk membahasnya? Dan segudang pertanyaan-pertanyaan lain.

Sekali lagi, semua orang sudah tahu soal dalil-dalil yang melarang dan ada pula yang memperbolehkan. Kalau boleh jujur kepada semua pihak yang suka melarang-larang, masyarakat butuh hiburan yang menyenangkan di tengah persolan hidup mereka yang tidak kalian pikirkan. Seorang perempuan butuh hiburan untuk sejenak melupakan aturan perlindungan perempuan yang jarang dibahas, sementara yang laki-laki butuh berlibur ditengah sulitnya melaksanakan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Semua sudah bosan pada bualan kalian yang sibuk pada sesuatu remeh-temeh begini dari pada sesuatu yang lebih substantif. Andaikata mau dipikir lebih jauh, pernak-pernik Natal dan Tahun Baru itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi sebagian orang, dimana kalian tidak mampu menciptakan. Coba hitung, berapa jumlah dagangan yang tidak laku akibat fatwa ini? Terompet, hiasan Natal dan pernak-pernik lainnya, justru menjadi penyambung hidup untuk sebagian orang, dan kalian hanya bisa mengharamkan.!

Malam pergantian tahun merupakan hiburan paling murah untuk rakyat miskin. Dengan modal berdiri di pinggir jalan tanpa harus membayar tiket dan melihat letupan kembang api, mereka sudah cukup untuk sejenak melupakan persoalan hidup, macam upah kerja yang tak sesuai UMR. Andai kondisi ekonomi lebih baik, pasti mereka lebih memilih hiburan lain seperti nonton Bioskop, ke Pantai, atau tempat lain yang dirasa lebih bagus dan menyenangkan. Mereka yang merayakan Natal dan Tahun Baru, bisa jadi kesempatan ber-quality time bareng keluarganya sedikit, sama seperti umat Muslim yang merantau bisa mudik pas lebaran.

Toh, mereka juga mengerti kalau malam pergantian tahun itu rawan kecelakaan, kecopetan, sama seperti saat bekerja ditekan atasan atau membayar pajak lalu dikorupsi tiap hari. Bedanya paling kalau malam pergantian tahun lagi apes langsung terasa saat itu juga, semenara dampak risiko dari tekanan kerja dan korupsi itu, tidak.

Berhentilah buang energi tahunan untuk berdebat macam ini. Ada banyak persoalan bangsa ini jauh lebih penting dibahas, semisal pengangguran, kemiskinan, dan yang lainnya. Jika kehidupan masyarakat sudah mapan dan nyaman, pasti selera liburan mereka bukan liburan murahan dan norak ini. Jika memang tetap harus ada, saran saya mending buatkan saja kalender yang isinya tanggal-tanggal haram selama setahun. Setelah itu, biarkan masyarakat sendiri yang menentukan. Jadi, berhentilah berdebat soal fatwa yang membosankan.!

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.