Locita

Menteri Kesehatan, Masker dan Kepanikan Corona

Ilustrasi menggunakan masker (foto: halodoc)

Setelah menjadi bahan ghibah internasional dengan menyatakan diri bebas dari virus corona, pemerintah Indonesia mengumumkan dua WNI positif terinfeksi di Depok pada 2 Maret 2020 kemarin. Konon kabarnya, keduanya terinfeksi pasca berinteraksi dengan kawan dekatnya dari Jepang.

Berita ini sekaligus menjawab keraguan AS, Kanada dan Australia mengenai kemampuan Indonesia mendeteksi infeksi virus ini. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison,bahkan terang-terangan menyatakan keraguannya. Indonesia negara yang sangat besar, sehingga sulit memberikan kepastian Indonesia bebas dari virus corona, begitu katanya.

Pernyataan ini senada dengan yang disampaikan Amerika Serikat dan Kanada yang sama-sama meragukan kesiapan Pemerintah Indonesia dalam menangani kasus kesehatan global ini. Di dalam negeri juga tidak sedikit suara-suara sumbang meragukan klaim kondisi Indonesia yang aman dari virus ini.

Di dalam negeri, kabar ini sontak memantik perburuan masker dan cairan pembersih tangan, sehingga kelangkaan terjadi dimana-mana. Menkes dan pejabat terkait juga sudah berkali-kali memberikan pernyataan bahwa tidak perlu menumpuk masker karena penularan virusnya terjadi dari droplets, bukan dari udara. Namun, kepanikan terlanjur terjadi.

Kepanikan ini bagi saya masuk akal karena pemerintah tidak memberi penjelasan yang runut dan komprehensif kepada masyarakat. Selama ini yang kita dengar hanyalah pernyataan-pernyataan sekilas dari pejabat negara ketik diwawancarai wartawan. Isinya pun kebanyakan jadi bahan guyonan di sosial media. Ndak menenangkan blas. Ndak informatif blass!

Gaya komunikasi Pak Menkes memang menarik diamati. Blak-blakan dan lugas khas seorang tentara yang taktis. Tapi pak, yang sedang dihadapi ini potensi kepanikan massal karena masyarakat tidak mendapat informasi yang runut.

Seratus dua hoaks yang dipusingkan oleh pemerintah itu cuma puncak gunung es.
Cara mengatasinya bukan meng-endorse influencer tapi pejabat publik yang muncul memberi keterangan runut dan jaminan keamanan kepada masyarakat.

Bandingkan cara berkomunikasi pejabat kita dengan pernyataan Menteri Kesehatan Singapura yang viral beberapa waktu yang lalu. Runut, tegas dan meyakinkan adalah kesan yang akan anda dapat setelah mengikuti pernyataannya. Di situ dengan lengkap Menkes Singapura menyampaikan apa itu virus covid19, cara penularan sampai instruksi cara pencegahan. Jangan sering-sering menyentuh bagian wajah anda, katanya.

Pidato Menkes Singapura itu diawali dengan kalimat awal , izinkan saya menjelaskan apa yang kami ketahui mengenai virus ini. Pembuka yang meyakinkan. Rakyat Singapura yang mendengar akan merasa yakin bahwa pemerintahnya sudah melakukan usaha untuk mencari tahu. Sampai pada instruksi detail mengenai jangan menyentuh wajah terlalu sering karena penyebarannya melalui mulut hidung dan mata.

Bandingkan dengan cara menjelaskan Menkes kita. Beliau tecatat pernah mengeluarkan pernyataan yang unik. Bahwa penyakit ini bisa sembuh sendiri, sama seperti virus yang lain. Jooos! Top! Gaya komunikasi yang mantap, ndan!

Gini ya, dari sisi medis mungkin itu pernyataan valid. Kan pak Menkes dokter yang dihormati kalangan medis. Tapi dari sisi kemanusiaan itu ndak banget pak! Itu kayak kita lihat rumah orang sebelah kemalingan, tapi pak lurah cuma bilang ntar juga insyaf sendiri malingnya. Mungkin saja terjadi, tapi kan ndak menenangkan buat yang punya rumah.

Harusnya sebagai lurah kan bilang kalau oke, kita akan tingkatkan kualitas siskamling. Kalau ada yang kemalingan lagi ini tanggung jawab kita bersama. Kalau ada yang kemalingan lagi silakan lapor ke saya 24 jam nonstop saya layani. Itu baru lurah jos!

Tapi sepertinya gaya komunikasi Menkes memang begitu deh. Inget pernyataan belio soal masker? Sebelum ketahuan ada warganya yang positif terinfeksi, belio menyatakan salah sendiri beli masker, jadi harganya mahal kan. Kemudian kemarin belio juga menyampaikan, kamu enggak sakit kok pakai masker bikin harga masker mahal, selorohnya.

Bener juga sih pak. Mekanisme pasar ya namanya hehe.

Terus kalau udah mahal gini gimana pak? Pemerintah mau ngapain kalau masker mahaaal? Itu jawaban yang kami tunggu. Sekarang kan sudah mahal nih harga masker. Sedangkan permintaan terus tinggi. Nah, langkah pemerintah gimana nih? Apakah akan ada operasi pasar? Atau menyediakan alternatif masker? Atau terus riset sampai vaksinya ketemu sehingga orang enggak butuh masker lagi? Mengintensifkan GEMAS?

Lho, kalau bapak jelasinnya sepotong-sepotong begitu gimana masyarakat ndak panik?

Ditambah lagi, masyarakat kita sudah punya preseden buruk soal birokrasi kesehatan kita. Berbagai masalah kesehatan yang muncul sebelumnya akibat birokrasi yang rumit menambah buruk situasi. Jaminan kesehatan yang berantakan hingga gagapnya pelayanan kesehatan ditingkat bawah turut andil dalam menimbulkan kepanikan menghadapi wabah ini.

Ini yang penting dikomunikasikan dulu. Masyarakat perlu mendapat jaminan kepastian dari pemerintah bahwa birokrasi kesehatan kita siap menghadapi wabah ini sebagai suatu bangsa. Atau lebih luas lagi menteri yang lain juga penting meyakinkan masyarakat akan kesiapan di bidang masing-masing sehingga tidak sampai terjadi panic shopping.

Jaminan bukan hanya tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai maupun komoditas yang mencukupi, tapi juga ruang aman untuk para korban yang terinfeksi agar tidak menjadi bulan-bulan pemberitaan di media. Yang terakhir ini mbuh tanggung jawab siapa.

Dias Pabyantara

Dias Pabyantara

Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Aktif ngoceh di podcast: Luas Mendalam

Tentang Penulis

Dias Pabyantara

Dias Pabyantara

Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Aktif ngoceh di podcast: Luas Mendalam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.