Locita

Mengulik M.C. Ricklefs, Dari Abangan ke Nasionalan abangan dianggap sebagai “Muslim nominal” atau “Muslim KTP”, yakni orang-orang yang secara legal beragama Islam tapi sebetulnya tidak terlalu saleh secara spiritual

Selama ini saya tidak menaruh perhatian terhadap kerja-kerja intelektual dari peneliti Australian National University, Merle Calvin Ricklefs atau yang lebih masyhur dengan nama M.C. Ricklefs di Indonesia. Barangkali saya yang kuper atau memang saya lebih terpikat dengan nama lain seperti Ben Anderson, seorang Indonesianis ciamik dari AS, Harry Poeze, sang “penemu” Tan Malaka di masa modern, atau Peter Carey yang kesohor dengan hasil penelitiannya tentang Pangeran Diponegoro.

Namun, setelah mendapat kabar wafatnya M.C. Ricklefs pada 29 Desember 2019 lalu melalui grup WA atau link-link berita, sekelebat memori saya mengingat-ingatnya, dan nama itu sebenarnya tidaklah asing.

Saya pernah menemukan karya-karyanya terpampang di perpustakaan, toko, dan beberapa makalah yang mengutip salah satu karyanya, seperti buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang, Yogyakarta di Bawah Mangkubumi, 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa, dan lain-lain. Kesan saya, orang ini benar-benar gila. Gila Indonesia.

Beberapa artikel populernya juga terpampang di media sejarah Indonesia, seperti Historia.id. Hal yang membuatku semakin gemes adalah telaahnya tentang struktur sosial Jawa ala Clifford Geertz: kaum Abangan, Santri, dan Priyayi. Terkhusus soal kaum Abangan yang ingin saya bahas di tulisan ini, bahwa ia tidak mau tunduk pada konklusi trikotomi Geertz yang begitu hegemonik sampai saat ini.

Asal Usul

Wang abangan atau berarti kaum merah – secara etimologis – punya banyak penjelasaan. Dalam tulisannya Asal Usul Kaum Abangan di Historia.id ia dengan gamblang menyuguhkan beragam versi tentang apa itu kaum abangan Jawa. Mulai dari abangan/abritan yang dinisbahkan dengan Syeh Lemah Abang/Syeh Siti Jenar – meski argumen ini sangat lemah – sampai pada laporan-laporan misionaris Belanda seperti W. Haezoo di Semarang, S.E. Harthoon dan D.J. tem Zeldam Ganswijk, abad ke-19.

Menurut W. Haezoo, pada tahun yang 1855 tiyang abangan (orang merah) adalah istilah untuk membedakan tiyang putihan (orang-orang saleh beragama). Begitu juga Ganswijk, memiliki pandangan yang hampir sama, orang yang masuk pesantren, belajar Al-Quran, bahasa Arab disebut bangsa putihan, sedangan mereka yang tidak memahami hukum-hukum agama disebut bangsa abangan.

Namun di tahun-tahun awal abad ke-19, banyak catatan-catatan tentang diskripsi struktur masyarakat Jawa tidak pernah menyebutkan tentang istilah abangan atau putihan. Sehingga Ricklefs menduga dua istilah itu baru berkembang pada paruh kedua abad 19.

Selain merunut dari aspek kultural, ia menemukan ada gestur politik yang turut membentuk idiom abangan tidak hanya sebagai kategori sosial, tapi juga sebagai identitas politik yang mengalami pasang surut.

Kaum abangan dianggap sebagai “Muslim nominal” atau “Muslim KTP”. Yakni orang-orang yang secara legal beragama Islam tapi sebetulnya tidak terlalu saleh secara spiritual, apalagi memahami Islam secara serius melalui pendidikan pesantren.

Mereka cenderung menganggap Islam sebatas identitas yang perlu saat upacara-upacara penting saja: pernikahan, sunatan, lebaran, atau pemakaman. Tapi dalam keseharian mereka lebih tunduk pada norma-norma sosial yang berlaku. Secara politik mereka justru tidak memiliki kecenderungan ke partai-partai Islam. Mungkin ini masih dapat kita temui di sekitar kita.

Dari Abangan ke Nasionalan

Menurut Ricklefs, kaum abangan yang diidentifikasi melalui pilihan politik pada pertengahan abad ke-20, memegang peranan penting dalam kancah politik Indonesia. Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI) menjadi partai kuat yang mendapat dukungan dari kaum abangan. Sementara “rivalnya” kaum santri juga tak mau kalah. Konsekuensinya, timbulnya jurang pemisah kedua kelompok sosial ini menjadi bencana kemanusiaan yang maha dahsyat di Indonesia.

Apalagi pasca 1965, kaum abangan benar-benar diberangus. Bahkan istilah wong abang (merujuk pada kata abangan) menjadi semacam olokan bagi mereka yang lebih dekat dengan atheis, sinkretis, pendosa. Gelombang Islamisasi orde baru yang disponsori pemerintah Soeharto semakin meminggirkan kaum abangan yang mayoritas berafiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia, bentuk baru dari PNI.

Saya menduga istilah abangan sudah tak lagi populer. Di daerah mataraman, orang-orang di desa saya misalnya, sudah jarang sekali menyebut abangan. Tapi lebih ngetren istilah nasionalan. Sebuah istilah sosial yang lebih politis lagi. Entah ini dinisbatkan pada orang-orang pengikut PNI atau semacamnya, tapi kata ini punya pemaknaan yang beragam. Intinya sama kata ini punya konotasi negatif bagi kaum santri sebagai kelompok dominan masa kini.

Kata nasionalan dalam bahasa Jawa berasal dari kata nasional dan imbuan “an”, memiliki arti sifat, watak, perilaku, atau kebiasaan. Jika di-bahasa Indonesia -kan kira-kira kata nasionalan sepadan dengan kata nasionalis, meski tidak bisa dipadankan secara equal.

Kata ini mulanya dipakai untuk menyebut gaya berpakaian seseorang, gaya nasionalan: pakai celana, kemeja, kebaya, sanggul dan lain-lain. Ini untuk membedakan gaya ala kaum santri: sarung, kerudung, peci, sorban dan lainnya.

Kemudian berkembang juga dipakai untuk menyebut perilaku yang tidak terlalu fanatik dengan agama. Dalam hal ini Islam. Fanatis dalam konteks ini, adalah mereka yang paham agama, tapi tetap gemar budaya-budaya umum, seperti dangdutan, wayang, jaranan, dan lain-lain. Berbeda dengan mereka yang benar-benar taat beragama yang justru lebih memilih menghadiri acara-acara pengajian, sholawatan, istighasah, dan sebagainya. Sebagai penegasan bahwa mereka, benar-benar kaum santri sejati.

Perubahan istilah abangan ke nasionalan perlu dikaji secara serius. Baik secara antropologis maupun historis. Apakah memang bisa disimpulkan bahwa kata nasionalan dapat mewakili kata abangan untuk masa kini. Sebab, ini hanyalah dugaan saya sebagai orang yang menjalani hidup di dua alam: sebagai bagian kaum santri sekaligus dianggap sebagai kelompok abang/abangan.

Barangkali ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai pewaris sejarah Indonesia untuk melanjutkan kerja-kerja intelektual M.C. Ricklefs. Selamat jalan, Bung!.

Ariful Anam

Ariful Anam

Guru bahasa Arab yang suka ngopi di sela-sela istirahat mengajar

Tentang Penulis

Ariful Anam

Ariful Anam

Guru bahasa Arab yang suka ngopi di sela-sela istirahat mengajar

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.