Locita

Ketika Putri Indonesia Tidak Hafal Pancasila Hanya menjadi tukang hafal dan tukang lupa adalah hasil pendidikan kita

Ilustrasi menghafal (foto: tribun.news)

Pemilihan Puteri Indonesia menyisakan satu cerita cukup menarik. Bukan cerita yang bagus memang, namun mampu menyita perhatian ‘segelintir publik usil’, sebut saja begitu. Perwakilan dari Sumatera Barat, Kalista Iskandar, tidak dapat menghafal susunan sila-sila Pancasila.

Bukan hanya itu, putri cantik ini -tentu menurut ukuran panitia- ternyata juga tidak dapat menghafal dengan benar. Semuanya tidak ada masalah dari sila pertama sampai ketiga.

Saya tidak tahu apakah Anda –pembaca- juga dapat menghafalnya dengan benar atau tidak. Kalau tidak yakin, silakan dicoba dulu sebelum melanjutkan. Kalau salah tidak perlu khawatir, Anda boleh mengulangnya atau bahkan mencarinya di om Google. Tidak akan ada yang tahu apalagi menertawakan, apalagi menghina.

Jika sudah, kita bisa kembali ke Kalista.

“Kemanusiaan yang….”
Lalu terdengar riuh penonton dan dengan wajah tersenyum tetapi dengan malu dan gugup yang gagal disembunyikan, ia berusaha melanjutkan

“Kemasyarakatan yang dipimpin oleh hikmat ….”

“Lima. Kemanusiaan sosial yang adil dan beradab.”

Kita semua tahu, oh atau mungkin juga tidak semuanya, susunan dan kata Kalista itu kurang tepat dan bahkan salah sama sekali. Sehingga Bambang Soesatyo, Ketua MPR, selaku penanya atau lebih tepatnya juri ‘tamu’ dalam acara itu perlu meluruskannya.

Kesalahan fatal Kalista kemudian menjadi bahan rundungan dan cacian warganet. Sebuah bahan yang sempurna memang untuk dijadikan olok-olokan. Memang bukan netizen namanya kalau tidak ‘nyinyir’, demikian kata seseorang yang tiba-tiba saja terlintas di benar saya. Sama seperti halnya ketika para awak media menunggu seorang, biasanya orang terkenal, salah bicara. Warganet juga punya tabiat yang sama. Barangkali karena memang begitulah tabiat mereka.

Saya mencoba menelusurui nama Kalista di Google dan YouTube. Saya tidak tahu menahu perihal grand final Puteri Indonesia itu. Saya tidak tahu jadwalnya atau disiarkan di program televisi mana. Saya baru tahu ketika beberapa teman saya mengunggah tentang Kalista. Dari sana saya kemudian mencari kabar apa yang terjadi. Saya mengetik namanya di YouTube dan segera kombinasi namanya dan Pancasila, dengan video yang sudah terpotong, berderet-deret memenuhi trending list di YouTube.

Saya tidak terlalu tertarik menanggpi rundungan netijen yang sebagian besar dari mereka mungkin memang terlahir sebagai tukang merundung.

Yang menarik bagi saya adalah sebab barangkali apa yang terjadi pada Kalista, yang juga bisa terjadi pada semua orang, adalah hasil pendidikan kita. Mungkin begitulah produk sistem pendidikan kita sehingga pertanyaannya pun “Apakah Kalista hafal lima sila ….?”

Menghafal (memorization) adalah cara belajar dan juga cara mengajar yang mengisi sistem pendidikan kita. Sebagaimana juga di beberapa negara lain. Di kelas-kelas kita dituntut menjadi siswa penghafal. Mereka yang dianggap cerdas dan mendapat ranking adalah mereka yang jago menghafal dan atau matematika. Atau jago matematika dengan menghafalnya. Menghafal perkalian dan pembagian.

Dalam Taksonomi Bloom, menghafal adalah tingkatan paling bawah. Saya tidak sedang mengatakan bahwa menghafal adalah sesuatu yang buruk. Hanya saja metode ini tampaknya selalu diajarkan dan tidak pernah berubah dari SD sampai perguruan tinggi. Keberanian saya untuk mengatakan ini tak lepas dari pengalaman saya pribadi.

Sebagai bagian dari anak milenial yang lahir pada dekade 90-an, saya masih mendapat sistem belajar-mengajar seperti ini. Sebagai siswa, saya kemudian memahami bahwa cara ini adalah cara belajar yang baik, cara belajar yang memungkinkan saya mendapatkan ranking. Dan barangsiapa yang mendapatkan ranking, maka dia dianggap pintar.

Saya tidak akan menafikkan bahwa dalam beberapa hal kemampuan menghafal penting. Kita perlu menghafal nomor telepon, nomor telepon penting atau hal-hal sederhana seperti alamat rumah sendiri. Hanya saja, tingkatan ini seharusnya tidak berhenti hanya pada tahap menghafal (remembering).

Di atasnya masih ada memahami (understanding) lalu mengapliksikan (applying) dan menganalisis (analyzing) dan seterusnya.
Kebiasaan hanya menghafal sebagaimana diajarkan di kelas-kelas, mempengaruhi mentalitas belajar kita untuk tidak diubah. Saya merasakan misalnya ketika studi ke Amerika Serikat. Mental remembering ini masih terbawa-bawa saat belajar.

Akibatnya, dalam beberapa kali saya hanya mengandalkan hafalan, di kelas yang sudah jauh meninggalkan cara ini. Memang berhasil dalam beberapa hal dan untuk jangka pendek tetapi gagal dalam lebih banyak hal dan tidak berhasil dalam jangka panjang.

Kita akhirnya menjadi bangsa tukang hafal. Hafal nama-nama pahlawan tetapi tidak meneladani sikap-sikapnya dalam keseharian. Hafal 16 rumus tenses bahasa Inggris tetapi tetap saja tidak kunjung pandai berbahasa Inggris karena terjebak ke dalam rumus-rumus.

Di saat yang bersamaan kita menjadi saja menjadi seorang pelupa. Lupa jasa-jasa bahwa begitu banyak orang yang berjasa pada bangsa ini. Lupa bahwa perjuangan bangsa ini tidak lepas dari kontribusi kelompok-kelompok minoritas. Sampai kita perlu tugu-tugu peringatan untuk mengingatkan bahwa kita memang bangsa pelupa.

Saya menduga itu pula yang terjadi pada Kalista. Ia tidak hafal karena barangkali sudah begitu lama. Dan ketika ia mempelajarinya, ia diajarkan hanya untuk menghafal tanpa mengerti. Sehinggal seiring dengan banyaknya informasi dan jarang diulang-ulang, hafalan itu tidak lancar bahkan terlupakan. Ditambah dengan suasana panggung dan tekanan waktu dan mental.

Dan satu hal lagi, pendidikan kita juga lupa cara mengajari empati. Sehingga ketika ada kejadian seperti Kalista Iskandar, kita hanya mampu memberikan rundungan (bullyan) alih-alih dukungan.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.