Locita

Kaum Milenial, Kreativitas, dan Bonus Demografi

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Menjelang seratus tahun sumpah pemuda, salah satu hal penting yang patut kita perhatikan adalah bonus demografi. Pasalnya, tepat seratus tahun sumpah pemuda di tahun 2028, Indonesia diprediksi akan mendapatkan hal tersebut. Pada saat itu juga, jumlah penduduk berusia produktif lebih besar dibanding jumlah penduduk berusia non-produktif. Tapi pernyataan paling penting, apakah kita akan siap menghadapi bonus demografi tersebut? Salah satu yang akan menjawab hal tersebut adalah pemuda. Pasalnya, jika tidak diperhatikan dengan baik, bonus demografi dapat menjadi ancaman tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Di masa depan, tak dapat dipungkiri bahwa pemuda akan mengambil peran dalam perkembangan bangsa Indonesia. Jika pemuda hari ini tak bisa sebaik para pemuda yang terlibat pada masa Kongres Sumpah Pemuda II di tahun 1928, Indonesia mungkin masih berada pada titik yang mencemaskan. Belum lagi jika pemuda hari ini, malah jauh lebih buruk dibanding dengan pada masa itu. Tentu saja, harapan kita adalah melihat pemuda yang selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Pemuda yang mampu melakukan kerja kreatif dan inovatif demi kemajuan bangsa Indonesia. Hanya saja, proses untuk mencapai tersebut pasti akan menemui berbagai tantangan.

Jelas bahwa tantangan pemuda di setiap masa pun berbeda-beda. Elizabeth Bergner Hurlock, seorang peneliti dan penulis buku psikologi perkembangan, menjelaskan masalah yang dihadapi beragam. Pemuda akan dihadapkan dengan kondisi yang penuh dengan ketakutan, pencarian identitas, masa peralihan dan perubahan. Bagaimana dengan kaum milenial hari ini? Kondisi yang dijelaskan Hurlock, tentu saja akan selalu kita temui dalam tahapan perkembangan, meskipun dalam dimensi yang jelas berbeda.

Hadirnya kaum milienial memberikan dampak tersendiri. Peneliti sosial pun telah mengelompokkan generasi yang lahir dalam rentang tahun 1980an sampai 2000an sebagai generasi millennial. Kaum milenial hari ini kita pahami sebagai kelompok yang hidup dengan gaya dan kebebasannya sendiri. Dari hal itu pula, kita dapat menyimpan harapan agar mereka mampu memberikan gebrakan yang berbeda.

Pada tahun 2010, Pew Research Center merilis sebuah laporan riset dengan judul Millennials: A Portrait of Generation Next, dijelaskan bahwa yang mencolok dari generasi millennial dibanding generasi sebelumnya ada pada soal penggunaan teknologi. Kemajuan perkembangan teknologi kiranya dapat disertai dengan kreativitas yang dimiliki. Tony Buzan, salah satu pakar pendidikan yang juga mempopulerkan metode mind map, seringkali berpesan bahwa kunci dari sebuah keberhasilan ditentukan dari kreativitas individu tersebut. Gagasan terkait langkah membangun kreativitas ditulis dalam bukunya yang berjudul “The Power of Creative Intelligence”

Bagi Tony Buzan, kreatif akan lahir dari kebebasan berpikir dan tidak selalu terpaku pada hal yang itu-itu saja. Mungkin saja, kaum milenial yang cenderung ingin bebas, mampu terbentuk menjadi pribadi yang mencapai titik kreativitas yang maksimal. Dengan kemampuan itu pula, Indonesia akan jauh lebih baik ketika mencapai bonus demografi. Berbagai peluang tentu saja akan terbuka dengan menjadikan kreativitas sebagai ujung tombak dalam menghasilkan karya.

Bonus demografi akan mencapai puncak di tahun 2028–2030, yang pada saat itu akan ada 100 orang produktif yang menanggung 44 orang non-produktif. Kaum milenial yang kreatif mampu memberikan peluang bagi Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Seperti halnya yang terjadi di beberapa negara lainnya. Berdasarkan data United Nation Population Prospect, pada tahun 1960–2000, bonus demografi memberikan sumbangsih dalam peningkatan ekonomi Korea Selatan mencapai 13,2 persen dan Singapura mencapai 13,6 persen. Bagaimana dengan masa depan Indonesia nantinya?

Salah satu penulis Amerika Serikat, Kurt Vonnegut, dalam salah satu karyanya Palm Sunday: An Autobiographical Collage, sempat berbicara tentang pemuda. “Apa yang harus dilakukan orang muda dengan kehidupan mereka hari ini? Banyak hal, tentu saja. Tetapi hal yang paling berani adalah menciptakan komunitas yang stabil di mana penyakit atas kesepian yang mengerikan dapat disembuhkan.

Pemuda tentu saja mesti berani melakukan terobosan yang lebih berani dari masa ke masa. Jangan sampai, apa yang sempat disinggung Kurt Vonnegut tentang penyakit kesepian masih menjadi ancaman yang terus berlaku di bangsa kita.
Penyakit atas kesepian seringkali menjadi masalah akut bagi pemuda. Secara psikologis, penyakit itu akan berdampak pada berbagai masalah seperti depresi, kecemasan sosial, dan kecanduan obat terlarang. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Johann Hari, menuliskan sebuah buku yang berjudul, Chasing the Scream: The First and Last Days of the War on Drugs.
Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa pemuda yang mampu berkomunitas atau terhubung dengan orang lain mampu terhindar dari kecanduan obat terlarang. Selain komunitas, pemuda tentu saja membutuhkan beragam keterampilan yang menunjang dalam mencapai target yang ada.

Berbagai hal tersebut juga menjadi penghambat kreativitas para pemuda. Namun, dengan semangat sumpah pemuda kita bisa melihat bagaimana tekad pemuda pada masa itu. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, para pemuda berhasil merumuskan konsep serta gagasan yang sebenarnya merupakan cikal bakal dari berdirinya bangsa Indonesia.

Belajar sejarah tentu saja tidak diniatkan seutuhnya untuk kembali ke masa lampau, melainkan juga hal itu akan menjadi teropong menuju masa depan. Bahkan, belajar dari semangat sumpah pemuda, ini menjadi modal besar dalam menghadapi bonus demografi dalam beberapa tahun mendapat. Saat tiba di titik bonus demografi, kita berharap dapat berdiri di puncak keberhasilan yang kita impikan.

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.