Locita

Kasus Reynhard Sinaga: Ketika Pendidikan Tidak Menjadi Jaminan Renyhard tak juga berarti serta merta mewakili mahasiswa luar negeri

foto : line today

Reynhard Sinaga, seorang yang kini menjadi “duta” Indonesia di dunia internasional. Wajahnya terpampang terang benderang di halaman utama hampir semua koran di Inggris Raya. Pun begitu di beberapa media negara lain. Ia juga tak luput dari perbincangan dan ulasan di media-media audio-visual seperti televisi. Secepat kilat, kisah dirinya menyebar cepat ke seluruh dunia.

Kita kemudian tahu bahwa ia bukan sekadar seorang warga negara Indonesia. Ia adalah lulusan sarjana UI (Universitas Indonesia), serang alumni program master di University of Manchester, dan di usianya yang ke-36 ia tercatat sebagai mahasiswa program doktoral di University of Leeds. Sebuah penanda yang begitu jelas jika ia adalah seorang berpendidikan tinggi, terutama karena ia sempat studi di Inggris, salah satu negara tujuan kuliah mahasiswa internasional.

Kesuksesan menyelesaikan studi di UI, sebagaimana menyelesaikan program S2 di University of Manchester dan apalagi kini sedang menempuh –dulu– program S3 cukup menjadi bukti bahwa Reynhard adalah seorang yang cerdas. Tidak mudah menyelesaikan studi di UI ataupun di University of Manchester.

Di cerita yang lain, Reynhard disebutkan sebagai seorang yang dikenal baik dan rajin ke gereja. Poin terakhir ini sering menjadi barometer mengukur kesalehan seseorang, setidak-tidaknya dalam konteks sosial-budaya Indonesia.

Tingginya jenjang pendidikan dan perilaku luar yang tampak saleh toh pada akhirnya tak menjadi satu jaminan ia adalah orang yang baik. Bahkan bisa jadi ia adalah seorang bajingan dan brengsek yang bersembunyi di balik topeng “dianggap baik” itu. Ia bisa jadi adalah seorang pelaku kriminal yang merugikan banyak orang dengan cara-cara di luar kewajaran.

Cerita yang serupa juga saya dapati beberapa hari lalu. Saat itu, saya sedang mengurus ijazah SMP saya di Bone. Saya bertemu guru saya dan ketika tahu bahwa saya adalah alumni dan mengajar pada sebuah program di UIN Alauddin, ia langsung mengingatkan sebuah kasus yang menggemparkan almamater saya itu.

Seorang mahasiswi, dengan usia kandungan empat bulan, dibunuh. Pertama-tama mulutnya ditekan dengan bantal lalu kemudian lehernya dihabisi dengan pisau. Tidak pernah sekalipun masuk di pikiran saya kejahatan seperti ini. Dan pelakunya adalah pacarnya sendiri. Dan juga ternyata adalah seniornya sendiri. Dan

“Dia itu tetangga saya. Baik dan alumnni pesantren.” Kata guru saya dulu itu dengan kepala menggeleng dan menutup mulutnya dengan tangan kanan seperti tak pernah percaya tetangganya sendiri melakukan itu.

Dua cerita di atas hanyalah secuil cerita pelengkap dari cerita-cerita kejahatan lain yang sudah banyak terjadi. Di luar sana ada banyak cerita kejahatan yang dilakukan oleh pelaku yang tidak pernah kita duga-duga. Tak jarang mereka adalah justru orang-orang yang kita kenal baik atau kita harap-harapkan akan menjadi orang baik. Entah karena kita melihat latar belakang pendidikan, keluarga, atau penampakan sehari-harinya.

Kasus Reynhard dan pembunuhan mahasiswi oleh pacarnya sendiri penting menjadi catatan bahwa ketinggian ilmu tidak selalu sebanding selurus dengan perbuatan. Ia bisa jadi dua hal yang bertolak belakang. Kecerdasan otak tak menjadi jaminan bahwa ia juga cerdas secara spiritual. Dan pun begitu kecerdasan spiritual, sebagai beberapa orang tampak seperti seorang pelaku spiritual, nyatanya adalah bisa jadi adalah seorang bajingan. Seorang brengsek yang merugikan orang lain. Tidak mempedulikan perasaan orang lain dan orang-orang dekat yang menyayanginya.

Meski demikin, saya pikir penting pula menjadi catatan bahwa karena hanya kasus seperti Reynhard tidak menjadi alat menggeneralisir atau stereotipe bagi semua orang. Skandal Reynhard dan mahasiswi UIN itu adalah dua cerita yang tidak serta merta mewakili semua orang. Reynhard tidak serta merta mewakili semua mahasiswa luar negeri sebagaimana pacar pembunuh pacarnya sendiri itu mewakili semua anak pesantren.

Catatan ini menjadi penting di tengah budaya kita yang sering begitu mudah menghukumi seseorang tanpa melihat latar belakang atau tanpa melihat kasus tersebut secara komprehensif. Saya percaya bahwa masih begitu banyak bahkan lebih banyak orang-orang berpendidikan tinggi dan alumni pesantren yang baik dan berkontribusi besar pada kemanusiaan.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.