Locita

Demi Presiden Pilihan, Haruskah Kita Berdebat atau Bertikai Sampai Mati?

Ilustrasi: Andi Ashari Saputra

Siapa pun yang jadi pemimpinnya, itu tak akan banyak mengubah kehidupan kita. Tapi celakanya, cara sebagian besar pendukung terlihat mengarah pada titik yang mengancam kehidupannya. Saya dan mungkin anda, pernah melihat atau mendengar salah seorang teman atau tetangga serta kerabat kadang bermasalah lantaran pilihan presiden yang berbeda.

Berbagai pertikaian dengan mudahnya muncul di tengah kita, saat pihak yang kita dukung ternyata harus kalah. Slogan “siap menang, siap kalah” sebenarnya bukanlah sesuatu yang sederhana. Sebab siap menang selalu menjadi sesuatu yang mendominasi dibandingkan menerima kekalahan itu sendiri. Kecuali, dari kedua pihak para pendukung berlapang dada dan berpikir dengan jernih.

Hanya saja, belajar dari berbagai pesta politik bangsa Indonesia, pertikaian masih menjadi sesuatu yang sulit dibendung kala kita tak mampu menerima kekalahan. Mungkin kita tak pernah belajar menjadi orang kalah, atau terbiasa mengagungkan orang-orang sukses dengan berbagai kemenangannya, sementara kita hanya memandang sebelah mata, mereka yang gagal atau kalah dalam kehidupan yang fana ini.

Kehidupan tak akan terlepas dari politik. Meski ada beberapa orang yang menyebut dirinya bebas dari politik atau alergi dengan politik. Tanpa mereka sadari, sikap itu sendiri sebenarnya adalah pilihan politik juga. Dalam buku, Comparative Government and Politics: An Introduction, kita bisa melihat makna dasar politik dijelaskan sebagai proses pengambilan keputusan bagi para anggota dalam sebuah kelompok. Serupa dengan buku yang ditulis Aristoteles berjudul Politik, baginya, manusia sebenarnya adalah makhluk politik (Zoon Politicon). Hal yang patut diwaspadai tentu saja konflik dari politik itu sendiri yang terkadang secara tak disengaja lepas kendali.

Di beberapa tempat, pasca pemilu – masyarakat mesti melihat pertikaian yang membawa duka. Beberapa negara seperti Brazil, Honduras, Meksiko dan beberapa negara Amerika Latin bahkan sering mengalami konflik selepas pemilihan. Dan tentu saja, tiap kali konflik terjadi, masyarakat akan kembali menjadi korban. Bahkan perayaan demokrasi itu malah harus berujung dengan pertukaran nyawa pendukung yang tak sedikit jumlahnya. Apa yang sebenarnya menjadi penyebab hingga hal seperti itu terjadi?

Emilie M. Hafner-Burton dari Universitas California dan Susan D.Hyde dari Universitas Yale menjawab pertanyaan itu dalam sebuah publikasinya. Temuan itu dimuat dalam British Journal of Political Science dengan judul When Do Governments Resort to Election Violence? Memberikan jawaban yang sederhana.

Bahwa pemimpin memiliki peran besar dalam terjadinya konflik. Petahana yang ketakutan terhadap oposisi cenderung memberikan dampak pada kekerasan pasca pemilu. Lantaran dengan cara itu, kekuasaan mereka memiliki peluang untuk bertahan dan tidak terancam dengan oposisi. Bukan hanya masalah petahana, tapi pihak pesaing pun cenderung bisa melakukan hal serupa jika mental tak siap kalah pun tak dilatih dengan baik.

Beberapa waktu lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan jadwal debat calon presiden dan calon wakil presiden. Sebanyak lima kali, mereka akan saling bertemu dan beradu pendapat, gagasan serta keresahan yang membuat kita belajar, siapa yang layak dan berhak dipilih. Debat pertama akan berlangsung pada tanggal 17 Januari 2019. Berlokasi di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan dengan tema: Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme. Barangkali saja para pendukung kedua calon bisa melihat dan belajar dari cara menjawab atau merespon berbagai masalah yang akan dikaji. Namun, yang paling saya nantikan adalah melihat siapakah di antara kedua calon tersebut yang mampu memperlihatkan mental berani kalah berani menang.

Lima kali debat mungkin tak cukup untuk menilai baik buruknya tiap pasangan capres dan cawapres, hanya saja sesi itu bisa menjadi harapan untuk menemukan titik pijak yang jelas. Sebelum sesi debat capres dan cawapres itu ada, para pendukung telah lebih dulu saling serang dan bertikai. Bahkan telah ada yang mengorbankan dan menghilangkan nyawa demi pilihan presidennya.

Mengapa kita tak mencoba untuk berpikir lebih jernih dan melihat siapa yang pantas untuk didukung?
Dalam bukunya, The Art of Always Being Right, Arthur Schopenhauer memberikan sejumlah bentuk dasar dalam berdebat dengan seseorang. Terdapat tiga puluh delapan metode dalam menyusun gagasan yang membuka kembali tujuan klasik dari logika yaitu mencapai kebenaran.

Berutang pada sejumlah filsuf sebelumnya, Schopenhauer secara khusus merangkum sejumlah pemikiran dengan berbagai metode yang dapat kita pelajari melalui sejumlah esai dalam buku tersebut. Saya membayangkan beberapa teknik itu digunakan para pendukung atau mungkin para capres, tentu saja perbincangan akan lebih mengarah pada pencarian kebenaran, bukan semata memenangkan ego serta kepentingan pribadi saja. Tapi, jika benar adanya, siapa pun yang jadi pemimpinnya, itu tak akan banyak mengubah kehidupan kita, satu-satunya yang pantas kita ajak bertikai sampai mati – hanyalah diri kita sendiri.

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

30 comments

  • I just could not leave your site prior to suggesting that I actually loved the usual info an individual supply in your guests? Is going to be again regularly in order to investigate cross-check new posts

  • Hey very nice web site!! Man .. Excellent .. Amazing .. I will bookmark your site and take the feeds also…I’m happy to find so many useful info here in the post, we need develop more strategies in this regard, thanks for sharing. . . . . .

  • I am often to blogging and i really appreciate your content. The article has really peaks my interest. I am going to bookmark your site and keep checking for new information.

  • We’re a group of volunteers and starting a new scheme in our community. Your site offered us with useful information to paintings on. You have performed a formidable task and our entire community shall be thankful to you.

  • I am commenting to let you know of the exceptional encounter my daughter gained going through your web site. She came to find several issues, which included how it is like to possess a very effective coaching character to have a number of people easily thoroughly grasp some tricky matters. You actually exceeded readers’ expected results. Thanks for supplying those practical, healthy, revealing and in addition fun tips about this topic to Lizeth.

  • You can certainly see your skills within the work you write. The sector hopes for more passionate writers such as you who aren’t afraid to mention how they believe. At all times follow your heart. “Faith in the ability of a leader is of slight service unless it be united with faith in his justice.” by George Goethals.

  • Its such as you read my mind! You appear to grasp a lot about this, such as you wrote the ebook in it or something. I think that you just could do with some to force the message home a bit, but instead of that, that is great blog. A fantastic read. I will certainly be back.

  • I haven’t checked in here for some time as I thought it was getting boring, but the last few posts are great quality so I guess I’ll add you back to my everyday bloglist. You deserve it my friend 🙂

  • Thanks for every other informative site. Where else may I am getting that kind of info written in such a perfect approach? I’ve a undertaking that I am simply now running on, and I have been on the look out for such info.

  • I’ve been absent for a while, but now I remember why I used to love this blog. Thank you, I will try and check back more often. How frequently you update your website?

  • I have not checked in here for some time because I thought it was getting boring, but the last several posts are good quality so I guess I will add you back to my everyday bloglist. You deserve it my friend 🙂

  • You could certainly see your expertise in the paintings you write. The sector hopes for more passionate writers like you who are not afraid to say how they believe. Always go after your heart. “A second wife is hateful to the children of the first a viper is not more hateful.” by Euripides.

  • Hi, just required you to know I he added your site to my Google bookmarks due to your layout. But seriously, I believe your internet site has 1 in the freshest theme I??ve came across. It extremely helps make reading your blog significantly easier.

  • Have you ever considered about adding a little bit more than just your articles? I mean, what you say is valuable and everything. However just imagine if you added some great pictures or videos to give your posts more, “pop”! Your content is excellent but with pics and clips, this blog could certainly be one of the best in its field. Wonderful blog!

  • I?¦ve been exploring for a little bit for any high quality articles or blog posts in this sort of space . Exploring in Yahoo I eventually stumbled upon this website. Studying this information So i?¦m happy to exhibit that I have a very excellent uncanny feeling I came upon exactly what I needed. I most surely will make sure to don?¦t overlook this website and provides it a glance on a continuing basis.

  • Very interesting subject, regards for posting. “The height of cleverness is to be able to conceal it.” by Francois de La Rochefoucauld.

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.