Locita

BONUS DEMOGRAFI DAN INVESTASI PENDIDIKAN KITA

Ini sudah semakin dekat puncak dari bonus demografi kita. Begitu lewat kita akan kehilangan jendela peluang ini, karena itu kita akan mendorong pendidikan kita tuntas dan berkualitas.” – Sandiaga Salahuddin Uno

Konon pada tahun 2020-2035 mendatang, Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara yang akan menikmati bonus demografi (dividen demography); sebuah kondisi dimana jumlah penduduk di suatu negara didominasi oleh mereka yang terkategori sebagai usia produktif (15-64 tahun) dari pada penduduk yang usianya tidak produktif (di bawah 15 tahun dan lebih dari 65 tahun).

Pada saat itu, Indonesia akan mengalami pergeseran rasio ketergantungan (dependency ratio) menjadi 44%; dimana perbandingan usia produktif dan non produktif akan menjadi 180 juta berbanding 85 juta.

Tentu saja, ini akan menjadi perubahan yang positif jika dibandingkan dengan dependency ratio penduduk Indonesia pada tahun 2010 yang berkisar 51,31%. Jika kita melihat grafik tren rasio ketergantungan pada lima dekade terakhir, penduduk Indonesia selalu menunjukkan penurunan rasio ketergantungan sejak tahun 1971 hingga 2016.

BPS memperkirakan bahwa puncak demografi ini akan terjadi pada rentang tahun 2015-2030 dengan dependency ratio mencapai 70%.

Pada satu sisi, tentu saja, kondisi ini bisa menjadi “anugerah” yang luar biasa bagi negara manapun yang bisa menikmati kondisi ini karena, dengan penduduk produktif yang melimpah dan mampu memanfaatkannya secara maksimal, akan menjadi bekal fundamental dalam menapaki kemajuan di berbagai sektor.

Hanya saja, di sisi lain, patut pula disadari bahwa kondisi ini berpotensi menjadi “musibah” bagi negara jika yang terjadi justru tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

Sebab itu, dalam upaya menyambut bonus demografi ini, hal yang menjadi PR bersama adalah langkah-langkah strategis-positif apa yang harus dilakukan oleh Indonesia agar bonus demografi ini benar-benar menjadi anugerah dan bukan musibah?.

Jika merujuk pada pengertian umum bonus demografi di atas, maka kita bisa menarik salah satu kata kuncinya, yaitu “produktif”. Derivasi dari produktif (kata sifat) dalam bentuk kata bendanya adalah produktivitas; suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang maksimal (Herjanto: 2007).

Karena itu, langkah paling esensial untuk menyambut bonus demografi ini adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Upaya peningkatan SDM tersebut bisa melalui, salah satunya, pendidikan. Pendidikan harus mendapatkan prioritas karena upaya-upaya peningkatan SDM, pendidikan (masih) menjadi unsur utama dan bahkan ruhnya; SDM akan bernilai jika di dalam memuat wawasan, kemampuan, sikap, perilaku, keahlian, serta keterampilan sesuai dengan kebutuhan dan bidangnya masing-masing (Djoyonegoro: 1995).

Lantas pertanyaan berikutnya adalah langkah kongkrit apa yang bisa dilakukan demi upaya tersebut?

Pendidikan Karakter dan Investasi Pendidikan

Dalam proses peningkatan kualitas pendidikan, di Indonesia sudah melakukan beberapa kali pergantian Kurikulum. Kurikulum tersebut antara lain, Kurikulum 1947, Kurikulum 1952, Kurikulum 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum KBK, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dan yang terakhir adalah Kurikulum 2013.

Pergantian Kurikulum tersebut bisa dipahami sebagai upaya penyempurnaan dari satu fase ke fase berikutnya selaras dengan tuntutan zaman yang berubah-ubah—tentu saja demi terwujudnya pendidikan yang lebih baik.Hanya saja, pergantian kurikulum yang relatif banyak tersebut, sejauh ini, tidak terlalu memberikan pengaruh yang cukup signifikan jika dikaitkan dengan peringkat indeks pembangunan manusia (human development index) di Indonesia.

Hal tersebut bisa dilihat pada, misalnya, data yang dirilis oleh United Nation Development Program tahun 2013 yang menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke 111 dari 182 negara yang diukur. Salah satu indikator penilaianya adalah kualitas pendidikan.

Idealnya, Seperti yang tertera dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Sebab itu, pendidikan tak ubahnya proses yang terus-menerus (ongoing process) memusatkan perhatiannya pada persoalan penanaman moral dan akhlak—di samping menumbuhkembangkan potensi-potensi yang lain.

Dalam kehidupan riil, kejadian-kejadian seperti tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, tawuran warga, miras, narkoba, pornografi, hoax maupun masalah korupsi menjadi sebuah realitas yang nyaris hadir tiap waktu. Jika fenomena semacam ini tidak segera dan terus-menerus mendapatkan perhatian yang serius, maka hal tersebut sangat berpotensi untuk menjadi bom waktu dan boomerang bagi Indonesia.

Karena itu, pendidikan karakter harus ditekankan demi terwujudnya SDM yang berkualitas dan bisa menjadi sebab berhasilnya meraih keberkahan bonus demografi.

Secara sederhana, istilah karakter kerap disandingkan dengan istilah etika dan moral yang fokus masalahnya adalah ada pada kepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak. Dalam kamus bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008: 682) kata karakter bisa diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang yang lainnya.

Membangun karakter tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses panjang yang dilalui dan memerlukan usaha yang berkesinambungan dari 3 elemen penting pembentuk karakter, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan sosial.
Jika merujuk pada konsep pendidikan karakter yang ditawarkan oleh Lickona (1991: 51) yang meliputi tiga unsur pokok yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).

Tiga unsur dari konsep pendidikan karakter ini, sesungguhnya tahapan realisasinya tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tapi juga di lingkungan keluarga dan sosial.

Lingkungan keluarga adalah lingkungan awal dari pembentukan karakter anak sebelum mereka masuk ke lingkungan sosial dan sekolah. Di dalam lingkungan keluarga inilah,mestinya nilai-nilai kebaikan mulai diperkenalkan dan diajarkan kepada anak.

Sehingga mereka mengetahui kebaikan (knowing the good). Setelah mengetahui barulah lingkungan keluarga mendorong anak yang mencintai kebaikan (desiring the good).Begitu pula dengan lingkungan sekolah. Sementara lingkungan sosial akan menjadi wadah aktualisasi dari dua unsur pertama (knowing and desiring the good) menjadi tindakan dan perilaku kebaikan (doing the good).

Dalam konteks keindonesiaan, semua nilai karakter yang telah didapatkan dalam pendidikan harus diaktulisasikan dalam kehidupan bernegara untuk mengantisipasi munculnya masalah-masalah yang membahayakan kebinekaan dan kesatuan NKRI.

Sekurang-kurangnya, sebagaimana dalam buku “Pendidikan Karakter” yang ditulis oleh Zuchdi dkk (2015: 26-28), nilai karakter yang penting dimiliki oleh peserta didik, mahasiswa dan masyarakat Indonesia pada umumnya yaitu taat kepada tuhan, jujur, bertanggung jawab, disiplin, mandiri, kritis, sinergis, visioner, peduli, ikhlas, adil, sederhana, dan nasionalisme.

Selain itu, tampaknya Indonesia juga harus bisa belajar dari negara-negara yang telah lebih dulu sukses dalam memanen bonus demografi, seperti Thailand, Singapura, dan Korea Selatan. Dalam konteks pendidikan, ketiga negara tersebut menginvestasikan pendidikan guna meraup keuntungan bonus demografi.

Korea Selatan, misalnya, selain mengubah manajemen di bidang ekonomi, juga mempergunakan strategi capital intelectual. Ketika sedang berkembang, negara Korea Selatan mengirim pemuda sebanyak-banyaknya untuk belajar di luar negeri. Hasilnya, tenaga intelek yang melimpah menjadi penggerak utama nadi perekonomian Korea Selatan. Bonus demografi di Korea Selatan mampu meningkatkan pertumbuhan negara itu dari 7,3% menjadi 13,2%.

Hal yang sama juga dilakukan di Thailand dan Singapura. Investasi pendidikan dilakukan secara besar-besaran, baik dengan menyediakan pendidikan berkualitas dan bermutu maupun memberikan beasiswa bagi pemuda-pemudanya ke luar negeri.

Setelah lulus, kaum intelektual itu diberi tempat untuk menggerakkan perekonomian kedua negara tersebut. Sebagaimana Korea Selatan, bonus demografi meningkatkan pertumbuhan Thailand dari 6,6% menjadi 15,5%. Sementara itu, peningkatan pertumbuhan Singapura dari 8,2% menjadi 13,6%.

Demikianlah sekilas potret tentang upaya menyongsong bonus demografi melalui peningkatan kualitas di sektor pendidikan. Tentu saja, masih banyak aspek dari problem pendidikan yang belum sepenuhnya tercakup dalam tulisan ini.

Namun demikian, penguatan pendidikan karakter dan investasi pendidikan harus senantiasa mendapat porsi perhatian yang memadai dari semua pihak demi terwujudnya generasi-generasi yang berbekal tidak hanya wawasan dan pengetahuan kognitifnya tapi juga “hasrat” maupun spirit yang kuat merealisasikannya dalam bentuk perilaku dan tindakan praktis dalam kehidupan.

Bahkan lebih dari itu, tulisan ini juga hendak menegaskan bahwa bonus demografi harus dipandang layaknya dua sisi mata uang; ia bisa menjajikan keberkahan atau justru mewariskan musibah bagi Indonesia. Sebab itu, pemerintah dan seluruh elemen terkait harus mempu bersinegi untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan agar bonus demografi di masa mendatang bisa hadir sebagai berkah dan bukan musibah bagi bangsa Indonesia. Semoga. []

Tarisa Anindita TutuKo

Tarisa Anindita TutuKo

Koordinator Nasional Gerakan Milenial Indonesia

Add comment

Tentang Penulis

Tarisa Anindita TutuKo

Tarisa Anindita TutuKo

Koordinator Nasional Gerakan Milenial Indonesia

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.