Locita

Akhir Tahun, Belanja Online dan Kita yang Kalah

Sumber Gambar (Ilustrasi. New York Times)

Saat melihat inbox email – beberapa situs belanja buku online yang pernah saya gunakan mengirimkan pemberitahuan diskon besar-besaran. Sepertinya, sudah jadi kewajiban bila di tiap akhir tahun, kita disuguhkan dengan berbagai diskon yang luar biasa memancing. Bukan hanya buku, berbagai hal bisa kita beli melalui situs belanja online. Maraknya situs belanja online pun semakin berkembang dan sulit ditepis jika hari ini kita telah melahirkan perilaku baru yaitu belanja online.

Dulu sewaktu belanja online belum setenar sekarang, saya masih bisa mendengar beberapa teman yang bercerita tentang keraguaannya untuk membeli sesuatu di toko online. Alasan keamanan, waktu dan cara pemesanan, kepercayaan dan berbagai alasan lainnya menjadi pendukung hingga mereka menahan diri untuk belanja. Tapi sekarang, semua itu tampak berbeda sama sekali.

Orang-orang bahkan cenderung lebih memilih untuk belanja online dengan berbagai alasan yang tampak menjanjikan. Hingga akhirnya, kita bahkan menjadikan tanggal 12 Desember sebagai Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Beberapa negara pun memiliki sebutan yang berbeda untuk hari khusus belanja online mereka, seperti Black Friday untuk Amerika Serikat dan Single’s Day untuk Tiongkok.

Berbagai bentuk promosi pun dijadikan alat untuk menarik perhatian, seperti cash back, ongkir gratis, diskon, flash sale dan beberapa strategi lainnya. Tapi yang paling berpengaruh tentu harga yang terbilang murah dari biasanya. Inilah yang Gabriel Tarde, sosiolog Prancis abad ke-19, sampaikan jikalau harga adalah gencatan senjata. Di saat harga yang telah dipatok berhasil menghilangkan konsep tawar menawar dan membuat pembeli lebih cepat dalam mengambil keputusan untuk membeli.

Sejumlah toko online memberikan penawaran yang seketika menyerang kita untuk segera membeli. Pada akhirnya, kita seringkali kalah dan segera ingin membeli sejumlah produk yang ditawarkan.

Dalam bukunya, yang berjudul To Buy or Not to Buy: Why We Overshop and How to Stop, April Lane Benson yang juga peneliti gangguan perilaku belanja kompulsif menjelaskan belanja secara berlebihan mampu menjadi pemicu dari sebuah masalah. Pun jika ingin terbebas dari semua itu, sulit jika usaha tersebut tidak dibarengi dengan usaha radikal melawan kebiasan yang selama ini mendarah daging.

Sebuah perilaku mengancam yang mungkin membawa kita pada ketidaksadaran jikalau kita telah mengalami perilaku belanja kompulsif. Hal tersebut secara sederhana dapat dimaknai sebagai perilaku belanja yang terjadi berulang-ulang akibat suatu dorongan, keinginan, pengalaman perasaan, atau aktivitas yang tidak dapat dikontrol. Salah satu yang dapat menjadi sebab dari semua itu bisa bermula dari belanja online yang tak terkendali.

Harbolnas sendiri di tahun kemarin meraup untung yang sangat besar. Panitia Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2017 melaporkan jika nilai transaksi mampu menembus Rp 4,7 triliun. Bahkan di tahun ini, panitia harbolnas memasang target sebesar Rp. 7 triliun.

Di satu sisi, jumlah itu memperlihatkan hal baik untuk kemajuan ekonomi para pelaku bisnis. Namun hal yang luput kita sadari adalah kemampuan kita untuk melihat diri tergerus atas sistem kerja yang dibentuk sedemikian canggih. Semakin mudah kita dikendalikan dengan situasi, semakin jauh kita dari kendali diri yang baik.

Di Amerika Serikat, berdasarkan laporan Environmental Protection Agency di tahun 2015, terdapat 16 juta ton tekstil yang meningkat 68 persen sejak tahun 2000. Juga terdapat 34,5 juta ton plastik yang meningkat 35 persen sejak tahun 2000. Hal tersebut dipengaruhi oleh budaya konsumsi dan belanja yang kini tak terkendali lagi.

Di Indonesia sendiri, coba kita bayangkan betapa banyak benda atau sesuatu yang akan menjadi sampah selepas kebiasaan berbelanja kita gagal kita jinakkan. Perang harga yang terus menyerang seketika membuat pertanahan kita semakin lemah. Mungkin kita tak sadar bahwa kini, kesempatan melihat harga dan barang di mana pun, dan kapan pun membuat kita semakin sulit mengendalikan diri. Belanja online beserta harbolnas sebenarnya telah menyentuh konsep dasar kebebasan kita dalam berbelanja.

Semakin kita mudah menentukan serta memilih dari berbagai sumber yang tersedia, kita mendapatkan kebebasan kita. Kebebasan yang membawa kita pada perangkap masa kini, bahwa kita telah menjelma sebagai manusia yang kalah akan godaan akhir tahun dan belanja online. Hanya saja, yang tergerus dan hilang dari diri kita biasanya membawa kebaikan tertentu pada para penjual dan selamanya kita mungkin harus berdiri dan bertepuk tangan sembari berbangga jika kitalah konsumen paling gila, secara sadar atau mungkin tidak sadar sama sekali.

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

30 comments

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.