AnalisaEsai

Dunia Sudah Tidak Unik Lagi

welcomeeurope.com

Takdir dan pilihan hidup membuat saya berkesempatan mengunjungi beberapa daerah di Indonesia dan juga di belahan dunia lain. Pada perjalanan terakhir sempat menikmati Kalimantan Barat, sebuah provinsi multi etnis nan kaya budaya. Di Pontianak, saya sempat menghabiskan sebuah artikel panjang ditulis oleh Serdar Demirel, seorang intelektual Turki. Tulisan itu berjudul “Image and Global Resemblance in the Light of Hadits” terbit di jurnal International Journal of Islamic Thought.  Sebenarnya, artikel tersebut ditujukan kepada umat Islam mengenai hadits Nabi Muhammmad SAW, “Barang siapa yang meniru suatu kaum menjadi bagian dari mereka”.

Tulisan itu membuat saya merenungkan kembali perjalanan mengunjungi beberapa kawasan. Khususnya di kota-kota besar, hampir semua hal, baik bangunan dan pakaian memiliki kemiripan terlepas dari kawasan di mana terletaknya kota-kota itu. Bangunan tinggi yang saya lihat di Minnesota , memiliki kemiripan arsitektur dengan gedung pencakar langit yang ada di Jakarta dan Kuala Lumpur. Pun relatif sama dengan gedung yang ada di Yogyakarta dan Medan.

Dari segi pakaian pun demikian adanya. Hot pants dan tank top yang dipakai oleh para gadis di Ames pada musim panas, juga dipakai oleh para gadis Jakarta pada malam hari. Jeans ala Levi Strauss yang dapat saya beli tempo hari 32$ karena diskon, banyak ditemukan di pasar Tanah Abang dengan harga yang jauh lebih murah. Belum lagi dihitung baju lengan panjang v-neck yang dipopulerkan oleh boyband asal Korea Selatan, dipakai oleh para bujangan ketika ngopi-ngopi di kafe Bandung.

Kemiripan itu begitu kentara padahal dilihat di wilayah berbeda yang mestinya mempunyai kebudayaan yang berbeda pula. Misalnya keindahan Rumah Gadang Minangkabau dengan atap tanduknya. Atau kayu pada puncak atap Rumah Bugis Makassar bagian depan yang memiliki pola beragam. Demikian pula keindahan ukiran Rumah Dayak dengan burung Enggang gagah menyambut para tamu.

Dari segi pakaian, betapa indahnya baju gunting Cina, apalagi ketika si pemakai adalah putri Tionghoa cantik nan bermata sipit. Lain lagi keunikan teluk belanga khas Melayu lengkap dengan kopiah dan songketnya. Begitu juga kekayaan motif batik,  seakan tak pernah habis meskipun sudah punya tradisi panjang.

Setiap model arsitektur dan pakaian itu tentu memiliki filosofi tersendiri. Sebab merefleksikan alam pikiran dan identitas suatu kebudayaan. Misalnya destar kerut pada pakaian Minangkabau yang melambangkan kompleksitas pikiran sebelum melakukan suatu tindakan. Kalung bersusun pada pakaian Jawa bermakna alam baka, alam antara dan alam fana.

Keunikan sarat filosofi itu kini hanya dapat dilihat pada acara seremonial saja. Tidak lagi menjadi aspek kebudayaan yang hidup dalam keseharian setiap anggota etnisnya. Nyaris hanya sebagai simbol penanda bahwa suatu kawasan dihuni oleh etnis tertentu.

Keserupaan Sebagai Sebuah Tanda

Bentuk, pola dan corak merupakan hasil olah rasa dikombinasi dengan kalkulasi akal manusia itu dengan presisi tertentu. Dengan kata lain, kebudayaan adalah ekspresi batin manusia yang mengental dalam interaksi antar sesamanya dalam lingkup wilayah geografis tertentu. Karena itu, setiap kebudayaan menjadi unik dan mempunyai ciri khas masing-masing.

Serdar Demirel menyatakan dalam tulisannya bahwa budaya timur mengandung hikmah dan lengket dengan aspek metafisika yang ada didalamnya. Ekspresi kebudayaannya mengandung aspek transendental sekaligus memiliki nilai estetika yang tinggi. Lebih jauh dapat dikatakan, dalam budaya timur, antara sacred dan profan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat.

Akar dari hal ini adalah dari worldview (pandangan dunia) masyarakat yang senantiasa relijius dan spiritualis. Aspek transenden selalu mendominasi kultur dan sering kali menjadi faktor determinan perilaku sehari-hari. Secara tradisional mereka selalu mengedepankan harmoni, baik antara manusia dengan sesamanya, begitu juga dengan alam. Dalam membangun rumah misalnya, mereka masih menyediakan ruang untuk sekedar berinteraksi dengan tetangga dan tidak menebang hutan sembarangan untuk mendapatkan kayunya.

Hal serupa dapat dilihat dalam pakaian. Ada nilai estetika dari corak dan bentuk di dalamnya. Siapapun yang memakainya menjadi menyatu dengan keindahan tersebut.

Berbeda halnya dengan kebudayaan barat khususnya pasca Renaissance. Spiritualitas dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Nuansa religius tidak bisa didapati dalam kehidupan sehari-hari, kecuali kalau masuk ke tempat kelompok agama tertentu. Ekspresinya bersifat profan dan mencerminkan kekuatan fisik belaka.

Kita tidak dapat menikmati estetika dari gedung mewah nan megah. Perasaan hanya terpaku pada kegagahan dan keperkasaan karena bentuknya menjulang tinggi. Tidak dapat juga dilihat harmoninya, sebab antara satu bangunan dengan bangunan lain saling berkompetisi tinggi dan tentunya dibatasi oleh dinding yang tebal sebagai pagar. Sebuah cerminan masyarakat individualis yang tidak berinteraksi banyak kecuali seperlunya saja.

Dari sisi pakaian, fisik si pemakai senantiasa dikedepankan. Nilai estetikanya, kalaupun ada, terletak pada si pemakai. Bentuk tubuh tertentu ditonjolkan, tidak dapat disaksikan keindahan yang menyatu antara pakaian dengan orang yang memakainya.

Kemiripan yang yang dapat dilihat di mana-mana merupakan sebuah sinyal tentang adanya dominasi sebuah kebudayaan di dunia. Kelompok masyarakat yang elemen kebudayaannya dipakai secara massif tentu akan merasa superior. Sementara masyarakat dari kelompok budaya yang semakin terkikis, menunjukkan kelemahannya.

Kelemahan pada gilirannya sebuah pertanda inferioritas mereka ketika dihadapkan pada kebudayaan lain yang mencoba merasuk kedalam masyarakatnya. Mereka tidak mampu membentengi, malahan turut dan menjadikannya sebagai sesuatu yang hidup dalam kesehariannya.

Cukup aneh ketika gedung pencakar langit jadi “penghias” di sekitar Masjidil Haram. Sekali lagi, ini merupakan salah satu contoh betapa dominannya kebudayaan barat masuk, bahkan hingga ke jantung Arab dan umat Islam se-dunia. Ini belum lagi bercerita tentang belahan dunia lain, khususnya Timur. Mereka, pada umumnya, hanya dikenali ketimurannya lewat ciri fisik saja, seperti mata sipit, kulit sawo matang dan seterusnya. Selebihnya, nyaris tidak berbeda dengan kebudayaan barat.

Kalau kebudayaan adalah cerminan batin, maka ekspresi budaya yang sama mencerminkan batin yang sama.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Tidak Ada Meikarta Hari Ini

Next post

Guntur Romli Harus Balik Kanan