Analisa

Bitcoin Merajalela, Meski Dilarang di Indonesia

CAMERON Winklevoss dan Tyler Winklevoss barangkali saudara kembar paling berbahagia di dunia saat ini. Wajahnya pasti terus sumringah dan tersenyum sepanjang bulan Desember 2017. Bukan karena sebentar lagi pembagian bonus akhir tahun di kantor mereka. Tapi, karena mereka kini jadi miliarder baru setelah nilai tukar bitcoin melejit dan mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah.

Saya kutip berita dari laman berita Independen.co, duo saudara ini disebut-sebut punya 90 ribu koin bitcoins. Sementara awal bulan Desember, di New York, kemarin, Kamis (6/12) mata uang digital itu telah diperdagangkan dengan harga tertinggi yakni USD14.000. Nilai mata uang ini jika dikonversi ke dalam rupiah berarti sebesar Rp159 Juta per koin.

Dua orang itu telah menjadi miliarder baru. Saya menghitung 90.000 X Rp159 juta maka kekayaan mereka berdua mencapai Rp13 triliun. Nilai yang sangat fantastis, padahal saat mereka membeli bitcoin pada 2013 lalu harga jualnya hanya sebesar US120 dollar atau sekitar Rp1.680.000 per poin. Cameron dan Tyler kaya raya hanya dengan menginvestasikan uangnya USD11 juta atau Rp148,7 miliar.

“Kami melihat bitcoin memiliki potensi menjadi jejaring sosial untuk semua,” ungkap Tyle Winklevoss dikutip dari Financial Times yang mewawancarai orang kaya baru tersebut.

Cerita di atas hanyalah sebagian kisah sukses dari pemilik bitcoin. Bitcoin ialah sejenis mata uang digital yang bisa dipergunakan di negara manapun. Tidak berbentuk fisik, tapi nilai jualnya sangat tinggi. Ibaratnya bitcoin adalah emas dalam bentuk digital yang sangat berniali, juga serupa dengan saham, adakalanya nilai bitcoin turun. Namun, tak jarang nilainya melonjak tajam. Di Jepang nilai jual bitcoin hari ini, 8 Desember 2017 bahkan sudah mencapai 2 juta yen. Melonjak 100 persen dibandingkan bulan November lalu.

Namun, bitcoin tanpa celah, Pada Desember 2016, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kepada media bahwa pendanaan kelompok terorisme sudah menggunakan mata uang virtual. Hal ini terkait dengan kemudahan kelompok teroris saling berbagi bitcoin karena tidak ada lembaga khusus yang mengawasi peredarannya selain itu, bebas dibawa kemana-mana.

Oleh karena itu, sejumlah pertimbangan membuat Bank Indonesia pekan ini memutuskan melarang transaksi menggunakan bitcoin pada 2018. Larangan ini nantinya akan diatur dalam bentuk peraturan Bank Indonesia (PBI) yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

“Saat ini belum ada aturan yang jelas jika masyarakat melakukan transaksi bitcoin,” kata Onny di Jakarta.

Pelarangan ini tentu harus disambut sebagai niat baik bank sentral untuk memagari nilai rupiah sebagai alat tukar yang sah. Meski, saya tidak yakin pelarangan ini bisa benar-benar menghentikan transaksi bitcoin di dalam negeri. Coba saja Anda mengecek alamat website Bitcoin.co.id yang dikenal dengan exchange sebagai tempat jual beli mata uang digital (cryptocurrency) terbesar di Indonesia. Website ini masih beroperasi padahal larangan transaksi mata uang digital termasuk bitcoin telah ada dua tahun lalu. Mungkin saja larangan bitcoin pada 2018 ini hanya akan menjadi angin lalu, yang bertiup sampai jauh.

Dilansir dari The Wall Street Jorunal, seseorang yang tak diketahui namanya Maret lalu bahkan telah berbelanja vila mewah di Bali lewat situs BitPremier.com. Situs yang merupakan situs marketplace yang khusus menjual barang-barang super mewah yang dapat dibeli dengan bitcoin. Saya baru saja mengeceknya dan situs ini masih melayani pembelian.

Masyarakat akan sulit dilarang untuk melakukan jual beli mata uang digital di tempat manapun. Selain karena bitcoin bisa disimpan sebagai investasi, juga tidak dapat dilihat secara kasat mata. Transaksinya pun bisa dilakukan di luar negeri, dimana banyak negara mengakui sebagai alat pembayaran yang sah seperti di Jepang, Inggris ataupun AS.

Jadi, jikapun nanti exchange-exchange itu ditutup, apakah BI bisa memastikan tidak akan ada yang berbelanja bitcoin dari website luar negeri? Jika misal ditutup juga apakah yakin masyarakat tidak menemukan cara mengelabuhi penutupan website, seperti website porno yang masih bisa kita nikmati walaupun katanya sudah diblokir oleh Menkominfo.

Sejarah Bitcoin

Bitcoin sendiri merupakan cryptocurrency, mata uang dengan sistem enkripsi yang tak bisa dipalsukan. Adalah Satoshi Nakamoto, nama anonim dari Jepang yang dipercaya sebagai pencipta mata uang digital ini. Nakamoto tidak diketahui siapa aslinya, menurut The Economist Nakamoto adalah sosok berupa akun yang pertama kali menerbitkan bitcoin pada 2009. Ia memperkenalkannya sebagai alat transaksi melalui internet.

Celakanya mata uang berupa angka-angka ciptaan Nakamoto itu, terus berkembang hingga ke seluruh dunia. Di Australia seorang pria bernama Craig Wright pada 2016 mengumukan bahwa dia telah menciptakan pula bitcoin.

Sejak diciptakan Jumlah transaksi bitcoin hingga 2017 sudah mencapai 10 juta transaksi per bulan. Saat ini, nilai kurs satu bitcoin adalah 4.244,40 dollar AS, 3.609,03 euro, 28.383,89 yuan, dan 3.297,19 poundsterling. Nilai tukar yang cukup besar.

Bitcoin menjadi sangat terkenal di dunia setiap kali ada proses akibat inflasi yang tak terkendali dan harga-harga yang melambung tinggi. Kemunculan bitcoin disebut sebagai gambaran kemarahan terhadap pemerintah, bank sentral, dan regulator. Mereka dinilai tidak mampu untuk mengelola perekonomian dunia malah mengacaukan kehidupan. Bitcoin dianggap sebagai masa depan alat tukar dunia.

“Perubahan besar dalam cara hidup kita akan terjadi akibat teknologi dalam 20 tahun mendatang,” kata Peter Smith, salah satu pendiri Blockchain, Perusahaan yang mengelola penggunaan bitcoin.

Bitcoin di luar negeri memang telah berkembang sangat pesat, tidak saja sebagai alat transaksi di pertokoan ataupun lewat internet. Tetapi sudah memiliki anjungan tunai mandiri (ATM). Di Jepang sejak April 2017 sudah mulai menerima Bitcoin sebagai mata uang legal, dan mengukuhkan Jepang sebagai negara dengan pasar bitcoin terbsar dunia.

Bisa dibayangkan di tengah kian derasnya perkembangan teknologi digital. Tapi Bank Indonesia mencoba untuk membendungnya, tentu tidak akan mudah. Ada baiknya jika BI menertibkan penggunaannya saja, bukan melarang sebab butuh tenaga dan tentu dana yang tidak sedikit untuk melakukan aksi tutup sana dan tutup sini, lubang-lubang kecil yang telah menganga di belakang kita.

Seperti perkataan Bill Gates, tujuan awal pemakaian bitcoin adalah menjadi alat transaksi hal-hal yang baik. “Mata uang seperti bitcoin tidak bisa terhentikan karena kemudahan dan kenyamanan yang diberikannya,” pesan Pendiri perusahaan Microsoft ini.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Kisah Perempuan dari Beranda Rumah

Next post

Abu Janda, Felix Siauw, dan Bendera Rasulullah